Category Archives: Keuangan Keluarga

Menghitung Bunga Anuitas dengan Excel

anuitasSaya mengamati diskusi di salah satu grup facebook yang membahas tentang rente prenumerando dan rente postnumerando. Terus terang saya sangat asing dengan istilah ini. Saya tidak pernah menemukan istilah ini saat kuliah dulu. Setelah mencoba memahami perhitungannya akhirnya saya paham, ini masuk dalam pembahasan bunga anuitas saat kuliah dulu.

Walaupun ada sedikit perbedaan definisi antara rente dan anuitas pada materi pelajaran SMK tapi di kuliah, materi tersebut di gabung jadi satu dalam pembahasan bunga anuitas.

Pembahasan yang ada di buku pelajaran SMK menggunakan rumus yang tidak familiar dan sangat susah di hapal oleh otak saya yang terbatas ini. Padahal materi bunga anuitas sangat sering di temui dalam dunia kerja dan dalam kehidupan sehari-hari. Karena saya sering menggunakan excel dalam bekerja, maka saya mencoba menterjemahkan penghitungan bunga anuitas atau rente dalam excel (yang menurut saya lebih mudah) ;) . Saya akan menggunakan istilah anuitas dan rente secara bersama-sama karena secara prinsip adalah sama.

Incoming search terms:

  • meng hitung bunga bank dengan fungsu exsel
  • menghitung anuitas
  • postnumerando rente excel sheet downloaden
  • perhitungan bunga anuitas dengan excel
  • menghitung bunga anuitas
  • bahan hitung akuntansi di excel
  • mencari jangka waktu di excell dalam anuitas
  • contoh perhitungan bunga anuitas
  • cara hitung bunga anuitas
  • bunga anuitas

Biaya Memberi Sumbangan

biaya Kebetulan saya bekerja di sebuah proyek pembangunan PLTA di pedalaman Sulawesi. Proyek tersebut cukup besar dan mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga sekitar proyek tersebut. Banyak warga sekitar yang kami rekrut sebagai pekerja. Satu hal positif dengan adanya proyek itu adalah hampir setiap minggu pasti ada pekerja yang menikah :)

Entah menikahkan anaknya atau menikah untuk poligami atau alasan yang lain. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas melainkan banyaknya undangan pernikahan yang saya terima. Sudah menjadi tradisi di hampir semua wilayah Indonesia untuk menyumbang saat menghadiri pernikahan. Saya yakin, anda pasti mengalami hal yang sama. Andai saja, setiap pernikahan anda menyumbang 50.000 dan setiap minggu ada undangan untuk menghadiri pernikahan minimal sekali seminggu, maka dalam sebulan

Rp. 50.000 x 4 = Rp. 200.000

Itu adalah minimal 4 kali undangan perkawinan dalam sebulan, padahal sebulan anda bisa menerima sampai 6-8 buah undangan. Angka di atas tentu akan berubah.

Tapi moral story dari artikel ini, bukan untuk mengajak anda pelit dengan tidak menyumbang atau tidak memberikan sedekah. Sama sekali bukan itu. Saya cuma ingin mengajak anda untuk berpikir bahwa seringkali sumbangan pernikahan merupakan pos pengeluaran keluarga yang tidak di sadari.

Kira-kira apa lagi sih pos pengeluaran yang tidak kita sadari?

Biaya Perbaikan

Anda sering membeli barang second atau barang bekas? Maksud saya barang elektronik atau otomotif. Mungkin saja anda berpikir akan lebih menghemat jika membeli barang second. Tapi, perlu diketahui, membeli barang second memiliki teknik tersendiri. Sebab kalo salah memilih, maka biaya perbaikan yang akan anda keluarkan karena salah membeli barang seken akan semakin banyak.

Biaya Konsekuensi

Biaya konsekuensi maksud saya adalah pos pengeluaran biaya baru karena suatu barang yang baru anda beli. Contohnya kayak gini. Anda memutuskan untuk untuk membeli sebuah mobil baru. Dengan adanya mobil tersebut, pos-pos biaya yang baru akan muncul seperti biaya perbaikan mobil, mengganti ban mobil, biaya bensin mobil, biaya parkir, dll. Padahal, sebelum anda membeli mobil, pos-pos tersebut tidak ada dan sering tidak anda sadari.

Efek biaya konsekuensi ini tidak dapat kita hindari. Hampir semua barang yang anda beli akan membawa biaya konsekuensi tersendiri. Saran saya, pertimbangkan masak-masak untuk membeli barang yang mempunyai efek biaya konsekuensi yang tinggi. Jangan jadi hilang akal saat melihat diskon gede-gedean di Mall. :)

 

Incoming search terms:

  • sumbangan akuntansi